Kader Komisariat Diperkuat: HIMA PERSIS Bahas Manifesto dan Sepuluh Titah Perjuangan

 

Serang, persisbanten.com – HIMA PERSIS menyelenggarakan Diskusi Internal bertema “Manifesto HIMA PERSIS: Jalan Juang Tataran Komisariat” pada Jum’at, 21 November 2025, bertempat di Pelataran Dakwah UIN SMH Banten. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Sekretaris IKA HIMA PERSIS Banten, Kanda Hilal Hizbullah Al-Fath, S.Hum., dan Veteran Komisariat HIMA PERSIS, Kanda Imron Hazmi Fauzi, SH., dengan Sekum PD HIMA PERSIS Serang Raya, Ikmal Anshary, sebagai moderator.

Pada pembukaan diskusi, Ikmal menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar rutinitas, melainkan ruang strategis untuk menata arah gerakan komisariat. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kolaborasi PK HIMA PERSIS UIN SMH Banten dengan para calon pengurus yang akan segera dideklarasikan, serta bertujuan menanamkan kompas ideologis dan taktis bagi kader.

“Diskusi internal ini adalah kolaborasi bersama PK HIMA PERSIS UIN SMH Banten dan para calon pengurus yang akan deklarasi bulan ini. Kita ingin menanamkan kompas ideologis dan taktis bagi perjuangan HIMA PERSIS di level komisariat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kehadiran HIMA PERSIS merupakan “bentuk kebersamaan gerakan di perguruan tinggi untuk memperkuat langkah dakwah dan intelektual.”

Materi pertama disampaikan oleh Veteran Komisariat HIMA PERSIS, Kanda Imron Hazmi, yang memaparkan bahwa karakter ulul albab merupakan fondasi nilai manifesto dan identitas kader perjuangan di kampus. Ia menekankan bahwa tauhid adalah akar seluruh langkah perjuangan.

“Tauhid adalah akar manifesto kita. Jika kader tidak teguh dalam kemurnian tauhid, maka seluruh langkah juangnya akan kehilangan arah,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan sejumlah prinsip nilai:

Pertama, “Senantiasa mengingat Tuhan adalah cara kita menjaga arah juang agar tetap di rel yang benar.”

Kedua, “Kesungguhan mencari ilmu adalah modal utama kader di tataran komisariat. Tanpa ilmu, gerakan hanya menjadi seruan kosong.”

Ketiga,  “Kearifan dan kebijaksanaan adalah etika kita dalam bermuamalah, baik dengan sesama kader maupun dengan masyarakat kampus.”

Keempat, “Kepedulian terhadap hajat hidup keummatan adalah orientasi yang membuat gerakan kita tetap berpijak pada kebutuhan umat.”

Hazmi menegaskan bahwa karakter ulul albab adalah kristalisasi nilai yang memandu kader dalam Ten Commandement HIMA PERSIS.

Materi kedua disampaikan oleh Sekretaris IKA HIMA PERSIS Banten, Kanda Hilal Hizbullah Al-Fath, yang menyoroti watak ideologis, kesadaran historis, dan militansi kader. Ia menekankan bahwa nalar kritis merupakan karakter penting yang harus hidup dalam diri setiap kader.

“Kader Persis tidak boleh buta arah. Sikap kritis terhadap penyimpangan adalah watak ideologis yang harus hidup dalam diri kita,” ungkapnya.

Ia melanjutkan bahwa jihad intelektual merupakan inti manifesto kader.

“Mencari dan menegakkan kebenaran adalah ruh jihad intelektual. Jika kader berhenti mencari kebenaran, maka ia berhenti menjadi kader,” ujarnya.

Hilal juga menekankan pentingnya kesadaran sejarah agar gerakan komisariat tidak terputus dari perjuangan jam’iyyah.

“Gerakan komisariat tidak boleh terputus dari jejak perjuangan jam’iyyah. Kesadaran sejarah menjaga kita tidak tercerabut dari akar perjuangan,” katanya.

Dalam penjelasan lain, ia menyoroti pentingnya mentalitas kepemimpinan dan solidaritas antarkader.

Pertama. “Menjadi kader garis depan berarti siap berkorban. Itulah bukti keberanian.”

Kedua, “Semangat senasib sepenanggungan adalah energi terbesar yang membuat komisariat tetap hidup.”

Hilal menegaskan bahwa manifesto bukan sekadar teks formal, melainkan “watak yang harus dihidupkan setiap hari oleh kader komisariat.”

Sesi diskusi berlangsung dinamis dengan pertanyaan kritis dari peserta. Para narasumber memberikan penjelasan mendalam mengenai arah juang, identitas kader, serta strategi komisariat dalam membangun tradisi intelektual di kampus.

Pada penutupan acara, Ikmal kembali mengingatkan bahwa manifesto harus menjadi pedoman nyata dalam gerakan kader.

“Manifesto ini harus menjadi pedoman nyata, bukan hanya slogan. Kita ingin kader yang kuat nilai, tajam nalar, dan kokoh dalam solidaritas,” tegasnya.

Diskusi ditutup dengan doa dan komitmen bersama untuk menguatkan langkah perjuangan HIMA PERSIS di tataran kampus dengan karakter ulul albab sebagai fondasi nilai.

 
Reporter: Farhan Rosyada

 

 

Editor : Farhan Rosyada

Postingan Lainnya

Comments (0)

Leave a Comment